Menjadi Orang Tua Dan Guru Itu Harus Bisa 3G
(Gali potensi dan kemampuan anak, Gali
Ide-idenya, mainkan Games-nya)
Seperti yang sudah
kita bahas beberapa waktu lalu tentang potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak-anak kita tidak hanya
terfokus pada satu kecerdasan saja kita harus meyakini bahwa anak-anak kita
adalah sang bintang dengan segudang kemampuan dan kecerdasan yang seluas
samudra. Namun
sangat disayangkan banyak dari kita para orang tua maupun guru telah membuat sempit
apa yang dimiliki anak dengan terfokus
pada satu jenis potensi dan kecerdasan saja. Ini semua mungkin terjadi karena
pola atau system pendidikan yang dianut oleh orang tua dan guru itu sehingga
segudang potensi yang dimiliki anak akan menjadi kotak kecil tak bermakna dan
“samudra kecerdasan yang dimiliki anak berubah menjadi selokan-selokan kecil”
menguktip ungkapan bapak Munif Chatib (konsulat Multiple Intelegents).
Jadilah orang tua
atau Guru yang 3G yang menggali potensi dan kemampuan anak sehingga anak-anak
yang kita miliki benar-benar menjadi bintang yang dapat menerangi dunia.
Berikut ini adalah
sebuah anekdot yang paling sering menjadi masalah bagi orang tua dan guru
disekolah karena kesalahan pola didik yang dianut oleh orang tua maupun para
guru. ada seorang anak yang sangat baik, suka membantu kawanya kalau kesusahan,
tertib dan mengantri jika dia ingin membeli jajan namun dalam pelajaran
matematika setiap akhir semester nilainya selalu saja 6. Jika saya bertanya
kepada para orang tua dan para guru, apakah menurut anda anak ini cerdas atau belum?
Saya yakin suara
mayoritas akan menjawab belum. Ini bukti bahwa kecerdasan yang dimaksud
sebagian besar para orang tua maupun guru masih terfokus pada satu sisi saja karena
pola didik yang anut sangat sempit.
Sering kali kita
hanya melihat anak dari satu sisi yang tampak dari luar seperti prilaku nyata
yang tampak saja atau hanya melihat kecerdasan anak dari goresan angka 9 atau
10 nilai raportnya. Jarang diantara orang tua maupun guru yang melihat potensi
yang terpendam dan segudang kecerdasan yang ada didalam diri anak-anaknya. Untuk itu para orang tua dan guru harus
bisa 3G yaitu:
G yang pertama adalah
Galilah semua potensi dan kecerdasan anak sekecil apapun bisa jadi
dengan potensi dan kecerdasan kecil itulah anak-anak kita akan menemukan jalan akhir mereka yang membahagiakan, kuncinya hanya satu “jangan hanya fokus pada satu potensi
dan kecerdasan yang dimiliki anak” bahkan ketika anak membuang sampah pada
tempatnya atau menghargai kawannya yang sedang berbicara adalah sebuah
kecerdasan yang dimiliki anak-anak kita.
G yang ke dua adalah Galilah
ide yang dimiliki anak-anak kita. Jangan pernah meremehkan ide yang
diajukan anak. Jika anak mengajukan ide atau memberikan masukan bagi orang tua
atau gurunya dan diterima dengan baik, ini adalah suatu penghargaan yang besar
bagi anak dan itu akan membangun kepercaya dirian seorang anak walaupun
terkesan sepele bagi kita dan ketika para orang tua atau guru melakukan itu
anda telah mengajarkan anak itu mengeluarkan satu kecerdasan yang dia miliki
yaitu kecerdasan berbicara (linguistic). Anak akan merasa dihargai saat anda
menerima ide yang dimilikinya dan akan merasa nyaman dan akan muruti perintah
orang tua atau gurunya. Mengapa ada anak yang tidak mau menuruti orang tua atau
gurunya untuk belajar bisa jadi karena anak tidak merasa
nyaman dengan mereka.
G yang ketiga adalah
Games. Sebagai seorang guru saya memiliki pengalaman ketika anak terus-menerus
belajar tanpa rehat anak akan bosan dan akan mencari hal menyenangkan lainnya
misalnya mengganggu kawannya saat belajar. Game dapat menjadi penyela dalam
belajar yang membuat anak tidak bosan dalam belajar. Selain game hal lain yang
juga bisa dilakukan adalah bernyanyi sambil belajar, itu sangat mengasyikan bukan hanya belajar
melulu.
Selamat
menjadi Orang Tua yang 3GOleh Kamaluddin, S. Pd. I |
Komentar
Posting Komentar