Orang Tua Berlapis Keberkahan !!!
Sebelum masuk pada pembahasan kami ingin
sedikit menjelaskan siapa orang tua yang dimaksud dalam tulisan ini. B.J
Habiebie pernah mengatakan Anak memiliki dua orang tua yang selalu
membimbingnya, pertama orang tua biologisnya saat di rumah dan orang tua
Idiologisnya disekolah yaitu para guru-gurunya.
Dibawah ini ada beberapa kisah orang tua
yang penuh dengan keteladanan yang Allah abadikan nama mereka dalam Al qur’an
mereka bukan hanya sekedar memberi pelajaran kepada anak-anak mereka, namun
mereka juga menjadi teladan dan dan berkata penuh dengan hikmah kabaikan
(qaulan sadidan). Menjadi orang tua yang baik tidak cukup hanya dengan memberi
pelajaran namun lebih dari itu orang tua juga harus bisa menjadi uswatun
hasanah (tuntunan yang baik) bagi
para anak-anaknya.
Yang pertama adalah seorang
laki-laki pengembala kambing, bertubuh kurus, kulitnya hitam legam. tidak ada
kesan wibawa didalam dirinya namun Allah memberinya hikmah (pelajaran yang
baik) baginya ada riwayat lain menyebutkan bahwa dia adalah seorang tukang
kayu, dia adalah Luqmanul Hakim. Allah
berikan kepadanya hikmah dan keutamaan karena keteladan dan nasihatnya seperti
yang Allah kabarkan kepada kita dalam Al qur an surah Luqman ayat 16-19 ketika luqman berkata kepada
anaknya
¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ
"Hai
anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
mengetahui. (Q S Luqmaan 16)
Alangkah damainya hati seorang ayah ini,
namanya Allah abadikan didalam Al qur’an bukan karena kegagahanya atau
kekuasaannya namun Allah mengabdikan namanya karena keteladanan luqman dan
pelajaran yang selalu dia berikan kepada anak-anaknya. Dalam ayat 19 Luqman
memberikan pelajaran berharga bagi anaknya yang juga patut kita ambil ibrah tentang
tidak baiknya seseorang bersifat sombong dan berbicara dengan suara yang tinggi
dalam bergaul di masyarakatnya, karena sejelek-jelek sifat dan suara adalah
suara keledai.
Yang kedua adalah Ibrahim as, wasiat
yang diberikan kepada anaknya sebelum maut menjemputnya dapat kita temui dalam
banyak ayat dalam Al qur ‘an salah satunya surah Al-baqarah ayat 132:
4Óœ»urur !$pkÍ5 ÞO¿Ïdºtö/Î) Ïm‹Ï^t/ Ü>qà)÷ètƒur ¢ÓÍ_t6»tƒ ¨bÎ) ©!$# 4’s"sÜô¹$# ãNä3s9 tûïÏe$!$# Ÿxsù £`è?qßJs? žwÎ) OçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÌËÈ
Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu
kepada anak-anaknya. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya
Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan memeluk agama Islam".
Juga cucunya Ya’kub as, keteladan dan hikmah yang diberikan kepada
anak-anaknya yusuf dan kedelapan saudaranya :
øŒÎ) tA$s% Ïm‹Ï^t7Ï9 $tB tbr߉ç7÷ès? .`ÏB “ω÷èt/ (#qä9$s% ߉ç7÷ètR y7yg»s9Î) tm»s9Î)ur y7ͬ!$t/#uä zO¿Ïdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJó™Î)ur t,»ysó™Î)ur $Yg»s9Î) #Y‰Ïnºur ß`øtwUur ¼ã&s! tbqßJÎ=ó¡ãB
ÇÊÌÌÈ
"Apa
yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan
menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu)
Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS Al Baqarah
133)
Sebuah pertanyaan dan jawaban yang luar
biasa. Ketika nabi Ya’kub as bertanya siapa yang akan disembah oleh
anak-anaknya saat dia wafat, anak-anaknya menjawab Tuhanmu dan Tuhan kakek
moyang mu Ibrahim as yaitu Allah. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika saja
Ya’kub tidak pernah mengajarkan hikmah dan katauhidan kepada anak-anaknya.
Sungguh kesalahan yang kita lihat pada saat ini salah satu penyebabnya adalah
karena orang tua sudah tidak perduli lagi dengan sikap keberagamaan anak-anak
mereka, Naudzu Billah.
Ada sebuah pesan dari seorang ulama
sekaligus ahli hadits Ibnul Qayyim Al jauzi:
“Barang siapa yang dengan sengaja tidak
mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja,
berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada
diri anak kebanyakan datang dari sisi orang tua yang meninggalkan mereka dan
tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam beragama berikut sunnah-sunnahnya.
Sekarang banyak orang tua yang hanya
ikut-ikutan punya anak bahkan ada yang tidak berniat memiliki anak. orang tua
semacam ini adalah orang tua “Kebetulan” ya kebetulan saja mereka menjadi orang
tua tentu sangat berbeda dengan orang tua “betulan”. orang tua betulan adalah
orang tua yang yang selalu ada untuk anak-anaknya, selalu menjadi uswatunhasanah
bagi anak-anaknya mereka telah menyiapkan pola mendidik anaknya ketika anaknya
lahir.
Ada sebuah kisah yang patut menjadi
renungan bagi kita semua selaku orang tua yang mungkin masih belum bisa menjadi
teladan, belum pernah bersama anak-anaknya agar tidak menyesal ketika waktu
senja nanti. Kisah ini saya ambil berjudul “Mengapa Tidak Pernah Menelpon
Ayah”, Ikhsan Baihaqi Ibnu Bukhari dalam bukunya Renungan Dasyat Untuk
Orangtua. Kisah ini menceritakan seorang ayah yang protes pada anak-anaknya
karena setiap anaknya menelpon yang mereka tanyakan adalah “Ibu sehat pa’ atau
pa saya mau bicara dengan Ibu”. Selalu yang mereka cari adalah ibunya tidak
pernah sekalipun dia bertanya tentang kabar ayahnya. Begitulah curhat sang
ayah.
Ternyata saat masih muda dulu, ayah ini
memiliki pekerjaan sebagai aparatur pemerintahan yang waktunya banyak
tercurahkan untuk pekerjaannya sebagai abdi negara, sehingga dari kecil
anak-anaknya dirawat dan dididik oleh ibunya. Si ayah pergi pagi pulang sudah
larut malam bahkan pada hari liburpun waktunya dihabiskan diluar rumah dengan
dalih pekerjaan hal ini membuat anak-anaknya tidak dekat dengan ayahnya. Kini
diwaktu senjanya setelah pensiun, ayah ini mengisi hari-hari hanya dirumah
dengan rasa sangat kesepian karena jauh dari anak-anaknya.
Bayangkan seandainya saja waktu bisa
diputar kembali dan ayah ini menyediakan sedikit saja waktunya untuk anak dan
bersama anak bukan hanya sekedar didekat anak
artinya saat bersama anak-anak tidak lagi dicampuri oleh aktifitas lain
lain seperti sambil membaca Koran, BBM-an atau sambil menonton TV. Bersama anak
adalah anda benar-benar tertawa, bermain bersamanya pastilah disaat tuapun
anak-anaknya dekat dan selalu merindukannya. Perasaan tidak bisa dibohongi dan
dipaksa perasaan cinta akan mengalir dengan sendirinya jika anda dekat dan
menyediakan waktu bersama anak-anak kita. Para Ayah dan Ibu sekarang anda tinggal
memilih mau menjadi orang tua yang mana?, Orangtua Betulan atau Orangtua
Kebetulan. Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Semoga Allah selalu
memberikan rahmat dan cintanya kepada kita agar kita bisa memberikan yang
terbaik untuk generasi emas agama ini.
Selamat menjadi Orangtua sholeh...!
*Kamaluddin, S.Pd.I, Guru SDIT Cendekia
Takengon.
Komentar
Posting Komentar